Nuffnang Ads

Monday, May 27, 2019

Puisi: Rahsia Tuhan


Saturday, May 11, 2019

Jalan Angin

JALAN ANGIN

Friday, May 10, 2019

Bulan Cinta

BULAN CINTA


Wednesday, August 24, 2016

S.A.H.A.B.A.T (Audio)

Friday, July 24, 2015

KOTA GENERASI

Kau biar ia mati bersendiri
dalam keroyok kota-kota peri-dosa
menghentak lesap ke petala muka bumi
ribut dalam syurga kota

Apa yg dicari?
waktu tumbuh fajar membuka setiap warna
di celah-celah jalanan kejadian di sini
menampal tiris air hujan di rumahnya

Seruling hidup tetap bersuara
gendang hidup masih bergema
walau ia mati bisu sendiri
Episod generasi terus bernyanyikan realiti.

(Pensil Langit)rsm

Wednesday, July 15, 2015

HAMBA

Dari apa ingin di lafaz
menyusun lidah supaya berkata
bahasa atau rupa yang subjektif
period-period suara fikir
paranoid-paranoid suara hati
menjelajah setiap masa yang tercipta
atas alasan adalah manusia
beza dengan rekaan lain yang ada
bahawa kita sebaik-baik ciptaan
selain hanya hamba
melutut tunduk kepada NYA.

Dengan apa ingin bicara
meminjam sabda supaya berkuasa
huruf dan aksara yang globalis
logika-logika prejudis
misteri pasif bukti imani
meneroka mereka
dengan akal dan hati milik peribadi
bahawa kelemahan mereka juga tercipta
membunuh runtuh sang hamba
melainkan kemuliaan taqwa
peri sujud rapuh kepadaNYA.

(Pensil Langit)rsm


Malam Misteri

Cengkerik masih bernyanyi
memenuhi cerita gelap malam
di tengah-tengah pendalaman
bertemankan bulan.

Kunang2 kubur di awangan
berkelip2 seperti bintang yang terbang
bersama kalkatu menyeru hujan 
Turun untuk segala kurniaan 
milik Tuhan.

Sekali deru angin2 besar memupuk ranting dedaun pokok
berguguran daun2 kering -bersama hentakkan zing
meliuk di bumbung belakang dan atas
hany sekali dan diam kembali

Tiada suara mercun berdentum
anak-anak lewat siang sudah tidur tenggelam
bapa2 tembakau dan kopi sudah pulang dgn isteri
lewat tengah malam ini kering sunyi
ada misteri

Robbul 'Izzati
Seribu bulan amal ingin disemadi
di kaki Mu 
di Singgah Sana Mu.

(Pensil Langit)rsm



Friday, December 6, 2013

PERADABAN???

Apa kata kau,
jika langit mnangis,
persis darah yang tiris,
dari haloba tangan-tangan massa,
merebut isi dunia
jadi bebola angin
terbang kosong
di tengah kota manusia
meledak kuasa
menendang kekalahan
percaturan dicipta.
jadinya; peradaban kan?

Politik

TRIBUTE: M.ELUKAI W.AKTU

Melihat Wajah.
Melukai waktu.
detik-titik-kita,
rusuh kejam,
membelah dada,
rekayasa cinta,
dosa-dosa lama,
luka tak sembuh,
dirimu.
suara hitamku,
terpaku di padang hati,
lamanya untuk lemas;
tak mati.

Sehingga nisan masih berdiri.
aku hanya ingin disuci.
melalui mati,
hidup kembali.
itu jika;
masih Tuhan restu.

Sedar Lagi

PIDATO BISU

Malam
menanti sepi
mengira bintang
tak rebah ke jantung bumi
hanya berseteru terbujur
di bulatan mata
berpidato bisu
kepada bulan; cantik di celah awan
di dengar Tuhan.


Separa Pagi

Thursday, September 26, 2013

I.S.T.I.G.H.F.A.R

Hanya segenggam ayat ku tahu
                                              -untuk;
membasuh hati, mereda mimpi, mengunci benci
ke petala langit tinggi tak bertali
untuk ku panjat dan kirim kan segala surat-surat
                                                -dari;
akar hati, pangkal jantung yang terikat materi
di benak fikir yang tak pernah henti
menulis dan lukis, prosa yang panjang
                                                 -jadi
huruf-huruf puisi, bernari dan mencaci
agar terguris di setiap poros awan
biar langit malu berterlanjang
bersama kalimah-kalimah dendam
dalam cerca atau mengaduh sakit
                                                -erti
seharian hidup manusia
antara bumi Mu Tuhan dan;
nafas-nafas yang mesti hidup
dalam dunia yang tak bertuhan.
                                             -kerana;
istighfar ini merebahkan segala taufan dilaut fikiran.

MINDA BESI

YALA

Tuesday, February 12, 2013

SEGMEN: OMBAK BESAR

OMBAK BESAR

Itu ombak besar, memanjang nafas
berhempas laut memukul hidup
tika naik turun, gelombang deras
menguji iman antara timbul dan tertutup.

Itu ombak besar, lemas bernafas cemas
dihujung nyawa menghirup dosa dan pahala
dalam dunia yang serba bebas; drama pentas
hanya ingat bila tiba malapetaka kepada mereka.

Bagaimana jika bahterah NUH tak sudi menerima, mereka?

Minda Besi
FEB 2013



SEGMEN ABABA: CEMUHAN

CEMUHAN

lelap mata bulan di bibir awan
malam yang terendam diam
dalam juta-juta persoalan
ingin dipecah bungkam
menuju jalan-jalan kebenaran.

MINDA BESI
FEB 2013

Wednesday, January 30, 2013

PUISI oleh WS RENDRA - HAI, MA !


Hai, Ma !

Puisi oleh WS RENDRA

……………
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..

Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai

Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa

Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma…

Jakarta, Juli 1992

Saturday, January 26, 2013

Meditasi Malam

BĂșlan, mengapa malam ini kau tak peduli pada pungguk:
resah malam,merangkak buas ketika cengkerik galau menuduh dusun-dusun purba
Firasat sesat karma-karma hiba membungkus nafas logika manusia
Tidak kah Gelap ini mati untuk hidup esok lagi. Mati akan memberi rehat mimpi?

Bulan, Bulan, Bulan;
bukan sial jika kau hilang
cuma, peraturan hidup yang ditutup siang untuk
meditasi realiti dalam erti sehari-hari
hari yang perlu dihijaui saksi-saksi bumi, di langit tinggi
dalam telagah ciptaan.

Fahami lah! bintang tetap teman,walau pungguk tersiksa panjang.

Minda Besi
[Yala]

Thursday, January 24, 2013

KUCUP

Langit, mekar bumi menyembah
tempat lahir makhluk istimewa
dari bapa ku yang di pinggirkan syurga
kau pelengkap kepada nya.

Sujud segala yang hidup
generasi lalu bergilir penghulu
basah bibir berukir restu
deminya Ya Rabb, dunia masih tercekam dari rahmatmu.

"Ya aiyuha l-lazina amanu, sollu 3alan Nabiy"
"Sollu alaihi Wa Sallimu Taslima"
Kucup ku mohon:
setiap salam-salam solatku.

Minda Besi
Maulidur Rasul 2013

Thursday, January 17, 2013

Mencari Tuhan Mereka

Kalau aku
mencari tuhan besar
panjat saja dinding dinding tamar
berkhutbah panjang ke dada angkasa
bukan hallaj bersatu dalam jiwa

Kalau aku
mencari tuhan kecil
lempar saja huruf-huruf petir
bersangka-kala ke hulu hilir
tidak, seperti doa riak bertiangkan rakyat

Kalau, aku
mencari Tuhan
tidak; menjengkil tinggi suara-suara, atma mereka.

 Minda Besi
[Yala Thailand]

Pulang mu di Khayalan Ka'abah

Kau senyum indah
dalam pelukan kejap malaikat
sepanjang perjuangan mu menyekat nafas
tiada resah dan tak mengadu lemah
mengacip gusi sambil menyembah
pulangmu di khayalan ka'abah
amat berkah, kini terbangmu bebas
menuju alam luas
bersama jutaan alfatehah

Saudara, keluarga akan merindui mu.

 -Alfatehah buat saudaraku Abg Rofiq
Minda Besi
Yala Thailand

Tuesday, January 15, 2013

Hanya Satu [Amir Hamzah]

Timbul niat dalam kalbumu:
terban hujan, ungkai badai
terendam karam
runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gegap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh Nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Di tengah gelisah, suara sentosa

                  *

Bersemayam sempana di jemala gembala
Juriat pelita bapakku Ibrahim
Keturunan intan dua cahaya
Pancaran putera berlainan bunda

Kini kami bertikai pangkai
Di antara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
lengah langsung melewat abad

Aduh kekasihku
padamu semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
merasa dikau dekat rapat
Serupa Musa di puncak Tursina

[Amir Hamzah, 1937]


Sunday, January 13, 2013

Tirani

Aku tahu kau tidak bisa dicela
atas nama-nama tuhan atau bangsa
terapuh amat dunia kini
dalam mimpi sebagai janji
telusur suci jadi benci
hatta merobek harga diri
dalam doa-doa tirani
aduh Tuhan, aku mohon penjelasan!

Minda Besi
Yala Thailand